Usia Seumur Jagung, KSPA Terus Menyapa Lokasi Bencana: Menyalakan Harapan dari Setiap Tetes Kebaikan

Berita, Sosial302 Dilihat

Banda Aceh – Di sudut-sudut Aceh, masih ada anak-anak yatim yang menanti uluran kasih, keluarga dhuafa yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, serta korban bencana yang hingga hari ini masih bertahan di bawah tenda pengungsian. Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan terus hadir melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan Komunitas Sahabat Peduli Aceh (KSPA).

Meski baru berusia sekitar enam bulan, KSPA telah membuktikan bahwa usia bukanlah ukuran untuk berbuat kebaikan. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian, komunitas ini terus bergerak menjangkau mereka yang paling membutuhkan.

Koordinator KSPA, Azwar Umri, dalam rilis yang diterima Selasa (30/6/2026), mengatakan bahwa seluruh program yang dijalankan lahir dari amanah para donatur yang mempercayakan rezekinya kepada KSPA.

“Setiap rupiah yang dititipkan adalah harapan bagi saudara-saudara kita. Ada air bersih yang mengalir, ada senyum anak yatim yang kembali merekah, dan ada keluarga korban bencana yang merasa tidak sendiri menghadapi cobaan,” ujarnya.

Selama enam bulan perjalanan pengabdian, KSPA telah menyalurkan berbagai bantuan di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Nagan Raya, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh. Seluruh kegiatan tersebut terlaksana berkat kepedulian anggota KSPA serta para sahabat dan dermawan dari Aceh maupun luar Aceh yang terus memberikan kepercayaan.

Bantuan yang telah diwujudkan bukan sekadar angka. Satu unit sumur bor di Desa Meunasah Raya, Pidie Jaya, kini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Satu unit sumur bor di Desa Kuala Ceurape, Bireuen, menghadirkan kemudahan memperoleh air bersih. Sebanyak 12 unit sumur gali di Desa Alue Bayeu Utang menjadi jawaban atas kebutuhan dasar warga yang selama ini kesulitan mendapatkan air.

Tak hanya itu, KSPA juga menyalurkan santunan kepada 42 anak yatim dan dhuafa di Banggalang, Kecamatan Beutong Ateuh, Nagan Raya, 21 anak yatim di Dusun Keumala, Gampong Blower, Kota Banda Aceh, serta 22 anak yatim dan dhuafa di Komplek Tiongkok neuheun Aceh Besar.

Bantuan pembinaan juga diberikan kepada Rumah Sunti dan Taman Pengajian Cahaya Aceh di Aceh Besar. Sementara di Desa Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, tiga kepala keluarga korban bencana yang masih tinggal di tenda pengungsian menerima bantuan masa panik sebagai bentuk kepedulian agar mereka tetap memiliki semangat untuk bangkit.

Hingga kini, Kabupaten Bireuen menjadi wilayah dengan penerima manfaat terbanyak dari program KSPA. Namun, perjalanan kemanusiaan ini masih sangat panjang. Masih banyak desa yang menanti air bersih, masih banyak anak yatim yang membutuhkan perhatian, dan masih ada keluarga korban bencana yang berharap bantuan segera datang.

Pada 4–5 Juli 2026 mendatang, KSPA kembali akan meresmikan empat unit sumur gali di Desa Pante Ranub dan Desa Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen. Di hari yang sama, tiga sumur milik warga di Desa Meunasah Raya, Pidie Jaya, juga akan diresmikan setelah selesai dibersihkan sehingga kembali layak digunakan masyarakat.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, masih tersimpan harapan yang belum dapat diwujudkan. Hingga hari ini, pembangunan MCK untuk Taman Cahaya Aceh di Kabupaten Aceh Tamiang belum dapat dimulai karena keterbatasan dana. Begitu pula Fitriani bersama warga lainnya di Desa Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, yang masih bertahan di tenda pengungsian dan menunggu hadirnya bantuan dari para dermawan.

Setiap bantuan yang diberikan mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang menerima, bantuan itu adalah harapan, kekuatan, bahkan alasan untuk kembali percaya bahwa masih banyak orang yang peduli.

Karena itu, KSPA mengajak seluruh masyarakat, para dermawan, dan siapa pun yang diberi kelapangan rezeki untuk terus bergandengan tangan dalam misi kemanusiaan ini. Sedikit dari yang kita miliki dapat menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan.

KSPA menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh mitra yang selama ini telah membersamai gerakan kemanusiaan ini, di antaranya Masyumi Aceh, ICPBA, IPHI Aceh, para anggota KSPA, serta seluruh sahabat dan donatur dari dalam maupun luar Aceh.

Usia KSPA memang masih seumur jagung. Namun, setiap tetes air yang berhasil dialirkan, setiap senyum anak yatim yang kembali merekah, dan setiap doa tulus dari masyarakat penerima manfaat menjadi bukti bahwa kebaikan tidak pernah diukur dari lamanya usia sebuah komunitas, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkannya bagi sesama.

Mari terus menyalakan harapan. Karena di setiap uluran tangan kita, ada kehidupan yang sedang menunggu untuk diselamatkan tutup Azwar Umri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *