Tujuh Bulan Bencana, KSPA Survei Gampong Meunasah Raya: Saat Sebagian Korban Masih Bertahan di Tengah Puing dan Lumpur

Berita, Lingkungan, Sosial230 Dilihat

Banda Aceh – Waktu terus berjalan. Namun bagi sebagian warga Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, bencana banjir bandang yang menerjang kampung mereka tujuh bulan lalu seolah belum benar-benar berakhir.

Sabtu (13/6/2026), Komunitas Sahabat Peduli Aceh (KSPA) kembali menjejakkan kaki di gampong yang pernah porak-poranda diterjang banjir tersebut. Kunjungan itu bukan sekadar survei biasa, melainkan upaya melihat secara langsung bagaimana kehidupan warga yang hingga kini masih berjuang bangkit dari luka bencana.

Di balik hamparan lumpur yang mulai mengering, masih berdiri rumah-rumah yang rusak dan tertimbun material banjir. Sebagian bangunan hanya menyisakan dinding dan rangka yang menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana yang merenggut kenyamanan hidup masyarakat.

Fokus survei kali ini adalah persoalan air bersih, kebutuhan paling mendasar yang hingga saat ini masih menjadi masalah besar bagi warga. Sebelumnya KSPA telah membangun satu unit sumur bor untuk membantu kebutuhan masyarakat, namun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan masih jauh dari kata cukup.

Sekretaris Eksekutif KSPA, Khairul Abrar IH, yang turun langsung ke lokasi mengaku prihatin melihat kondisi masyarakat yang masih hidup dalam keterbatasan.

Tujuh bulan sudah berlalu, tetapi kondisi masyarakat di sini masih sangat memprihatinkan. Banyak rumah yang belum bisa ditempati karena masih tertimbun tanah dan material banjir. Kehidupan mereka belum benar-benar pulih,” ujarnya.

Menurut Khairul, hanya sekitar 30 persen warga yang telah kembali ke rumah masing-masing. Selebihnya masih bertahan di pengungsian atau menumpang di rumah keluarga dan kerabat karena rumah mereka belum layak dihuni.

Di tengah keterbatasan itu, warga tetap berusaha bertahan. Namun beban yang mereka pikul tidak ringan. Selain kehilangan tempat tinggal yang layak, mereka juga harus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih dan minimnya sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam survei tersebut, Khairul Abrar IH didampingi oleh Bapak Sulaiman serta disambut langsung oleh Keuchik Gampong Meunasah Raya, Abdul Halim.

Dengan nada penuh harap, Abdul Halim menggambarkan kondisi masyarakatnya yang hingga kini masih membutuhkan perhatian banyak pihak.

Rumah-rumah warga masih tertimbun tanah sehingga belum bisa ditempati. Sumur-sumur tertimbun, jamban dan kamar mandi rusak total. Banyak masyarakat yang belum memiliki pekerjaan. Kondisi ekonomi mereka sangat sulit,” ungkapnya.

Menurut Abdul Halim, air bersih menjadi persoalan yang paling mendesak. Banyak sumur warga yang hilang tertimbun tanah sehingga masyarakat harus berjuang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bagi keluarga mereka.

Melihat kondisi tersebut, tim KSPA berkomitmen mengambil langkah awal yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam waktu dekat, KSPA akan melakukan pembersihan rencana empat atau lima sumur gali yang masih tertimbun material banjir.

Bagi sebagian orang, membersihkan lima sumur mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga yang selama berbulan-bulan hidup tanpa akses air bersih yang memadai, langkah kecil itu adalah secercah harapan untuk memulai kembali kehidupan mereka.

Secara terpisah Koordinator KSPA Azwar Umri mengatakan KSPA telah menyusun sejumlah agenda kemanusiaan akhir tahun 2026, yaitu;

1.Pembersihan sumur gali di Gampong Meunasah Raya ( mendesak bulan juni )
2. Pembangunan jamban dan bak mandi di Kabupaten Aceh Tamiang,
3. Pembuatan sumur gali di Desa Pante Ranub Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen.
4. Pembangunan fasilitas MCK di Teupin Mane Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.

Azwar Umri dengan penuh harap mengatakan semoga seluruh program tersebut dapat terlaksana dengan dukungan para dermawan, lembaga sosial dan masyarakat luas.

Tujuh bulan setelah banjir bandang berlalu, ternyata masih banyak keluarga yang belum bisa kembali menjalani kehidupan secara normal. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan uluran tangan dan kepedulian agar dapat bangkit kembali.

Di saat sebagian orang telah melupakan bencana itu, warga Meunasah Raya masih berjuang setiap hari di antara rumah-rumah yang tertimbun, sumur-sumur yang rusak, dan harapan yang belum padam. Mereka menunggu hadirnya kepedulian, karena pemulihan pasca bencana bukan hanya soal membangun kembali bangunan yang roboh, tetapi juga mengembalikan harapan bagi mereka yang terdampak ungkapnya.

Karena bagi warga Meunasah Raya, bencana mungkin telah berlalu dari pemberitaan, tetapi dampaknya masih mereka rasakan hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *