PIDIE JAYA – Delapan bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Pidie Jaya pada November 2025, kondisi di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, ternyata masih jauh dari kata pulih. Di balik anggapan bahwa penanganan bencana telah selesai, fakta di lapangan justru memperlihatkan sebaliknya: rumah-rumah masih hancur, jalan tertimbun material, sanitasi lumpuh, dan warga belum mampu kembali ke rumah mereka.
Fakta tersebut terungkap saat Komunitas Sahabat Peduli Aceh (KSPA) yang dipimpin langsung Koordinator KSPA, Azwar Umri, melakukan kunjungan lapangan selama dua hari, Sabtu-Minggu (4-5 Juli 2026), sekaligus menggelar rapat koordinasi bersama perangkat gampong dan tokoh masyarakat di Meunasah Gampong Meunasah Raya.

Kunjungan itu difokuskan ke Gampong Meunasah Raya karena menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerusakan paling parah akibat banjir bandang, sekaligus merupakan lokasi berbagai program sosial yang selama ini dijalankan KSPA.
“Kami ingin memastikan langsung kondisi masyarakat setelah delapan bulan berlalu. Selama ini informasi yang berkembang di luar seolah-olah penanganan banjir sudah selesai. Namun setelah kami turun langsung ke lapangan, kenyataannya sangat berbeda,” ujar Azwar Umri dalam siaran pers yang diterima media ini, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, kawasan permukiman masih tampak luluh lantak. Banyak rumah warga mengalami kerusakan berat hingga dinding rumah hancur dan “meledak” akibat tekanan material banjir. Sejumlah rumah masih tertimbun tanah, akses jalan belum sepenuhnya terbuka, bahkan di sepanjang sisi jalan masih terlihat tumpukan material dalam jumlah besar.
Tidak hanya itu, persoalan sanitasi, sumur yang tertimbun, WC yang rusak, instalasi listrik yang belum berfungsi, hingga minimnya lapangan pekerjaan masih menjadi persoalan serius yang dihadapi masyarakat.
Kondisi tersebut membuat banyak warga belum berani maupun belum memungkinkan kembali menempati rumah mereka. Selain faktor kerusakan fisik, trauma akibat bencana juga masih membayangi kehidupan para korban.

Melihat kondisi tersebut, KSPA menggelar rapat koordinasi bersama Kepala Desa, Imam Masjid, Ketua Pemuda, dan sejumlah tokoh masyarakat Gampong Meunasah Raya. Pertemuan dihadiri oleh Kepala Desa Abdul Halim, Tengku Ruslan, Muzakkir, Muksal, Amir, Sulaiman, serta M. Yusuf.
Dalam pertemuan itu, para tokoh masyarakat menyampaikan keluhan dengan penuh haru.
“Hampir delapan bulan berlalu sejak bencana terjadi. Desa kami merupakan wilayah yang paling parah terdampak di Kabupaten Pidie Jaya. Hingga hari ini kami masih tinggal di hunian sementara dan belum bisa kembali ke rumah. WC dan sumur masih tertimbun material banjir,” ungkap mereka.
Masyarakat juga mengaku kecewa karena banyak rumah yang mengalami kerusakan ringan maupun berat belum mendapatkan penanganan yang memadai.

Selain itu, mereka sangat membutuhkan bantuan alat berat seperti excavator mini dan truk untuk memindahkan material yang masih menimbun jalan, saluran air, serta rumah-rumah warga.
Kebutuhan mendesak lainnya adalah penyediaan sanitasi air melalui sumur bor maupun sumur gali, perbaikan instalasi listrik, pembersihan rumah-rumah warga, hingga pelatihan keterampilan bagi pemuda dan pemudi agar mampu bangkit secara ekonomi pascabencana.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Azwar Umri menyatakan KSPA akan berupaya menghimpun dukungan dari berbagai pihak agar kebutuhan paling mendesak segera dapat dipenuhi.
“Prioritas kami adalah membantu masyarakat agar bisa segera kembali ke rumah masing-masing melalui program pembersihan sumur, pembersihan rumah, serta perbaikan instalasi listrik. Untuk pelatihan keterampilan pemuda, kami juga akan berkoordinasi dengan Balai Latihan Kerja (BLK) di Banda Aceh agar ada solusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Di sela-sela kunjungan tersebut, KSPA juga meresmikan program pembersihan sumur warga di Gampong Meunasah Raya. Pembersihan dilakukan di rumah Abdul Halim, Cut Asmawati, dan Pak Gade.
Program sederhana itu disambut penuh haru oleh para pemilik rumah yang selama berbulan-bulan tidak dapat memanfaatkan sumber air bersih mereka akibat tertimbun material banjir.
Kunjungan KSPA sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik berkurangnya pemberitaan tentang banjir Pidie Jaya, masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan dan berharap perhatian serta bantuan nyata agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal pungkasnya.










