BANDA ACEH — Suasana khidmat menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh di Lambaro, Aceh Besar, Rabu (5/8/2026). Para warga binaan mengikuti pengajian keagamaan yang mengangkat tema penuh makna, “Mengangkat Mutiara yang Terjatuh.”
Pengajian tersebut diisi oleh Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Banda Aceh, Abu Sulaiman Qari, S.Sos.I., M.Ap. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para warga binaan menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Di hadapan para warga binaan, Abu Sulaiman menegaskan bahwa masa lalu bukan alasan untuk berhenti berharap. Setiap manusia memiliki kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT selama masih memiliki kemauan untuk bertaubat.
Ia mengutip sebuah hadis yang menjadi pesan utama dalam tausiyah tersebut:
«التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ»
«“Orang yang bertaubat dari suatu dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.”»
Menurutnya, hadis tersebut mengandung pesan yang sangat kuat bagi siapa pun yang sedang berusaha memperbaiki kehidupannya. Taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh atau taubat nasuha menjadi jalan bagi seorang hamba untuk mendapatkan ampunan Allah SWT dan memulai lembaran kehidupan yang baru.
“Jangan pernah merasa bahwa dosa dan masa lalu membuat kita tidak mungkin berubah. Selama kita mau kembali kepada Allah, pintu taubat selalu terbuka,” pesan Abu Sulaiman dalam tausiyahnya.
Tiga Syarat Taubat Nasuha
Dalam kesempatan tersebut, Abu Sulaiman juga menjelaskan tiga hal utama yang harus dipenuhi dalam taubat nasuha.
Pertama, menyesali dengan sungguh-sungguh perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Kedua, segera meninggalkan perbuatan dosa atau kemaksiatan tersebut.
Ketiga, memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu kembali.
Ia mengingatkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Taubat harus dibuktikan dengan perubahan. Kalau kemarin kita salah, hari ini kita berusaha menjadi lebih baik. Kalau pernah jatuh, jangan takut untuk bangkit,” ujarnya.
Menjadikan Masa Pembinaan sebagai Titik Balik
Tema “Mengangkat Mutiara yang Terjatuh” menjadi pesan simbolik bahwa seseorang yang pernah terjatuh dalam kehidupan tetap memiliki nilai dan kesempatan untuk kembali bersinar.
Para warga binaan diajak tidak melihat masa lalu sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai bagian dari proses untuk belajar, memperbaiki kesalahan, dan mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.
Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan diharapkan dapat memberikan ketenangan batin sekaligus menjadi motivasi bagi para warga binaan untuk menjalani masa pembinaan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Pengajian tersebut juga menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali menemukan jalan kebaikan.
Dari Lapas Lambaro, pesan sederhana itu kembali ditegaskan: pernah jatuh bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bangkit.







