Pahitnya Kehidupan Cucu Sultan Aceh Terakhir: Keturunan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah yang Pernah Mengharumkan Nama Aceh Kini Banyak Hidup dalam Kesulitan

Berita, Sosial80 Dilihat

Banda Aceh – Di balik kebesaran sejarah Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah disegani dunia, tersimpan kisah pilu yang jarang diketahui publik. Sebagian keturunan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Aceh, disebut menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Bahkan, beberapa di antaranya dikabarkan hidup dalam keterbatasan ekonomi dan belum memperoleh perhatian sebagaimana diharapkan.

Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah merupakan sultan terakhir Kesultanan Aceh Darussalam yang diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1904 ke Ambon sebelum akhirnya menetap di Batavia (Jakarta) hingga wafat pada 6 Februari 1939. Putra sulung beliau, Tuanku Raja Ibrahim, merupakan calon Putra Mahkota Kesultanan Aceh.

Menurut catatan yang dihimpun dari keluarga, sedikitnya terdapat 16 putra-putri Tuanku Raja Ibrahim yang merupakan cucu Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah dan keturunan Sultan Iskandar Muda. Namun, perjalanan hidup mereka disebut sangat beragam, bahkan sebagian besar jauh dari bayangan sebagai keturunan kerajaan besar yang pernah menjadi salah satu kekuatan Islam paling berpengaruh di dunia.

Cut Sawadi Ketua Ikatan Cut Putroe Bangsawan Aceh ( ICPBA ) dalam siaran pers kamis 9/7/2026 mengatakan beberapa di antaranya diketahui hidup sebagai petani, pengemudi becak, penjual bensin eceran, pengrajin mebel, hingga menggantungkan hidup dari pensiun pasangan atau bantuan keluarga.

Di antara kisah yang paling menyentuh adalah almarhumah Tengku Putri Safiatuddin Cahya Nur Alam, yang semasa hidup tinggal di rumah kayu tua yang telah lapuk dan nyaris roboh. Rumah tersebut bahkan mengalami kerusakan pascatsunami, sementara kondisi ekonomi membuatnya tetap bertahan di tempat itu hingga akhirnya tinggal bersama salah seorang anaknya karena faktor kesehatan.

Sementara itu, Tengku Putri Darma Kasmi Cahya Nur Alam menghabiskan masa hidupnya tanpa memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama keluarga anaknya. Meski hidup sederhana, beliau dikenal sebagai sosok yang gemar membantu orang lain melalui keterampilan memijat dan pengobatan tradisional.

Kisah pengabdian juga terlihat pada Tuanku Raja Kamaluddin, anggota TNI bidang kesehatan yang wafat beberapa hari setelah tsunami Aceh 2004. Menurut keluarga, sebelum meninggal beliau tetap memberikan pertolongan kepada para korban bencana meski dalam kondisi fisik yang telah melemah.

Tokoh keluarga lainnya, Tuanku Raja Mansur, dikenang sebagai sosok yang aktif mendirikan Yayasan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah, memperjuangkan pelestarian rumah adat keluarga Sultan, serta berperan sebagai mediator informal pada masa konflik Aceh.

Sementara Tuanku Raja Muhammad Daud dikabarkan memenuhi kebutuhan hidup dengan menarik becak mesin dan mengantar anak-anak sekolah di Lhokseumawe. Adapun Tuanku Raja Sulaiman memilih berjualan bensin dan oli eceran untuk menghidupi keluarganya, sedangkan Tuanku Raja Ishak Badruzzaman menekuni usaha pembuatan perabot setelah tidak dapat melanjutkan pendidikan tinggi karena keterbatasan biaya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, keluarga besar Sultan disebut tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Aceh, seperti memuliakan tamu, menjaga silaturahmi, mengadakan kenduri keluarga, serta mempertahankan tradisi yang diwariskan para leluhur.

Penulis naskah asli, Dra. Cut Sawadi, Sarjana Sejarah Universitas Syiah Kuala, menilai kondisi tersebut menjadi ironi bagi daerah yang dikenal memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Islam besar. Ia mempertanyakan minimnya perhatian terhadap pelestarian warisan Kesultanan Aceh, baik dalam bentuk pelibatan keturunan Sultan pada kegiatan adat maupun upaya pelestarian sejarah.

Menurutnya, pemerintah daerah dapat mempertimbangkan langkah-langkah untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah Kesultanan Aceh, termasuk mendokumentasikan sejarah keluarga Sultan, melibatkan keturunannya dalam kegiatan adat dan budaya, serta menjadikan warisan tersebut sebagai bagian dari pengembangan sejarah dan pariwisata Aceh.

Kisah kehidupan keturunan Sultan Aceh terakhir ini menjadi pengingat bahwa kebesaran sebuah peradaban tidak hanya tercermin dari catatan sejarah, tetapi juga dari bagaimana generasi penerus menghargai dan merawat warisan sejarah tersebut.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan para pelaku sejarahnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *