Banda Aceh, 14 Juli 2026 – Komunitas Sahabat Peduli Aceh (KSPA) menggelar pertemuan dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh pada Selasa (14/7/2026) untuk membahas upaya peningkatan keterampilan masyarakat di kawasan terdampak bencana.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut dihadiri oleh perwakilan KSPA yang dipimpin Khairul Abrar IH beserta rombongan. Sementara dari pihak BPVP, hadir langsung Kepala BPVP, Faisal, didampingi staf bidang pelatihan.
Dalam pertemuan itu, KSPA menyampaikan aspirasi masyarakat korban bencana yang hingga kini masih kesulitan memperoleh pekerjaan. Menurut KSPA, pelatihan keterampilan menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar masyarakat dapat kembali mandiri dan memiliki sumber penghasilan setelah bencana.

Menanggapi usulan tersebut, Kepala BPVP Banda Aceh, Faisal, menyatakan dukungannya terhadap program pelatihan vokasi bagi masyarakat di lokasi bencana. Ia menilai pelatihan keterampilan merupakan langkah strategis untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.
“Program pelatihan ini diharapkan mampu membekali masyarakat dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan untuk membuka usaha atau bekerja,” ujarnya.
Faisal juga menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pelatihan semata. Setelah peserta menyelesaikan pelatihan, diperlukan dukungan dari pemerintah desa maupun KSPA untuk menyediakan tempat serta fasilitas kerja agar keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Usai pertemuan dengan BPVP, KSPA langsung menggelar rapat internal yang dipimpin Koordinator KSPA, Azwar Umri. Dalam rapat tersebut disepakati bahwa KSPA akan mengusulkan sejumlah desa di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen sebagai lokasi prioritas pelaksanaan pelatihan vokasi.

Adapun bidang pelatihan yang diusulkan meliputi perbengkelan, pengelasan, instalasi listrik, serta berbagai keterampilan produktif lainnya yang memiliki peluang besar untuk menciptakan lapangan usaha bagi masyarakat.
Terkait penyediaan tempat usaha dan modal kerja bagi peserta setelah menyelesaikan pelatihan, KSPA mengaku optimistis. Organisasi tersebut akan berkoordinasi dengan para penasihat dan pembina KSPA, di antaranya Mustafa Abubakar, Azwar Abubakar, serta sejumlah tokoh masyarakat dan donatur yang selama ini aktif mendukung berbagai kegiatan kemanusiaan di kawasan bencana.
Azwar Umri juga berharap pemerintah dapat segera menghadirkan program lanjutan berupa bantuan modal usaha dan peralatan kerja bagi masyarakat korban bencana. Menurutnya, sinergi antara pelatihan keterampilan, penyediaan fasilitas kerja, dan dukungan permodalan akan menjadi kunci keberhasilan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.
Melalui kolaborasi antara KSPA, BPVP, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya, diharapkan masyarakat di kawasan terdampak bencana tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki kesempatan nyata untuk membangun kembali kehidupan dan perekonomian mereka secara mandiri.










