Banda Aceh– Sebuah desa dengan nama unik, Alue Bayeu Utang yang terletak di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, kembali menyuarakan harapan besar kepada Komunitas Sahabat Peduli Aceh (KSPA). Melalui sambungan telepon, Keuchik desa tersebut menyampaikan langsung kepada Koordinator KSPA, Azwar Umri, bahwa keberadaan sumur gali yang telah dibangun sangat membantu kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sebanyak lima unit sumur gali hasil donasi berbagai pihak yang difasilitasi KSPA kini menjadi sumber utama air bersih bagi warga. Setiap hari, masyarakat memanfaatkan sumur tersebut dengan menggunakan ember dan jerigen untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Dalam rilis yang diterima media pada Senin (13/4/2026), Azwar Umri menjelaskan bahwa Desa Alue Bayeu Utang memiliki kondisi geografis yang cukup menantang. Desa ini bertetangga dengan Kuala Ceurape, dengan karakter tanah yang cenderung berair asin, sehingga sangat sulit mendapatkan sumber air bersih yang layak.
“Jika dibandingkan dengan sumur bor, pembangunan sumur gali dinilai jauh lebih efektif dan ekonomis bagi masyarakat setempat. Karena itu, kebutuhan akan penambahan sumur gali masih sangat mendesak,” ujar Azwar.
Keuchik Alue Bayeu Utang pun secara khusus berharap KSPA dapat kembali membangun beberapa unit sumur gali tambahan. Dalam ungkapan bahasa Aceh, ia menyampaikan rasa syukur dan manfaat besar yang dirasakan masyarakat: “Kob brat pak, manfaat selama na meon gali nyan pak” yang berarti sangat besar manfaat sumur gali tersebut bagi warga.
Saat ini, KSPA tengah berupaya mencari sumber pendanaan baru guna merealisasikan pembangunan lanjutan. Tidak hanya untuk Desa Alue Bayeu Utang, tetapi juga untuk sejumlah wilayah lain yang memiliki kebutuhan serupa, termasuk Desa Meunasah Raya di Kabupaten Pidie Jaya yang telah lama mengajukan permintaan bantuan.
Menariknya, dukungan terhadap program ini tidak hanya datang dari dalam Aceh, tetapi juga dari berbagai pihak di luar daerah. Di antaranya adalah Najib Riphat, mantan Duta Besar RI untuk Belgia dan Australia, serta saudara Aceh Calan di Bandung. Selain itu, kontribusi juga diberikan oleh Munandar mantan Kepala BI Lhokseumawe dan sejumlah donatur lainnya.
KSPA berharap, kolaborasi berbagai pihak ini dapat terus berlanjut agar kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses terhadap air bersih, dapat terpenuhi secara merata di wilayah-wilayah terdampak.












