Oleh: Khairul Abrar IH
Ketua Yayasan Taman Istiqomah Atjeh
Jangan merasa aman hanya karena kita rajin shalat. Jangan pula merasa cukup hanya karena kita sering berdoa. Sebab, bisa jadi dalam diam, kita sedang menipu diri sendiri—merasa dekat dengan Allah, namun dalam waktu yang sama tetap akrab dengan maksiat.
Realitas yang pahit adalah ketika seseorang tekun dalam ibadah, tetapi tidak meninggalkan dosa. Ia sujud, namun masih bermaksiat. Ia berdzikir, tetapi tetap melanggar. Bahkan, ia menangis dalam doa, namun setelah itu kembali mengulangi kesalahan yang sama. Lalu, ibadah seperti apa yang sebenarnya sedang kita banggakan?
Bukankah shalat seharusnya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Namun jika maksiat masih terasa ringan, dosa masih dilakukan tanpa beban, maka patut kita bertanya—apakah ibadah itu benar-benar telah hidup di dalam hati kita, atau sekadar menjadi rutinitas tanpa makna?
Hati-hati, bisa jadi bukan kita yang menjaga ibadah, tetapi ibadah itu belum menyentuh jiwa kita. Ada yang rajin ke masjid, namun lisannya tajam menyakiti. Ada yang hafal ayat-ayat Allah, namun hidupnya jauh dari nilai-nilai yang diajarkan. Bahkan ada yang tampak saleh di hadapan manusia, tetapi diam-diam berani bermaksiat saat tidak ada yang melihat.
Inilah yang seharusnya kita takutkan—bukan sekadar dosa, tetapi hati yang sudah tidak lagi merasa berdosa. Ketika dosa menjadi kebiasaan, dan taubat tidak lagi diupayakan, maka perlahan hati akan mati. Hati yang mati tidak lagi tersentuh oleh nasihat, tidak lagi takut pada ancaman, dan tidak lagi merindukan Allah.
Lalu, apa arti ibadah jika tidak mampu mengubah diri?
Saudaraku, setiap kita pasti pernah jatuh dan berbuat salah. Namun, jangan jadikan dosa sebagai kebiasaan, dan jangan pula menjadikan ibadah sebagai pelarian tanpa perubahan. Ibadah sejatinya adalah kekuatan untuk memperbaiki diri, bukan sekadar penenang sementara.
Mulailah dengan kejujuran pada diri sendiri. Perbaiki apa yang tersembunyi, bukan hanya yang tampak di hadapan manusia. Tinggalkan maksiat, meski perlahan. Sebab perjalanan menuju kebaikan tidak selalu instan, tetapi harus terus diupayakan.
Ingatlah, Allah tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kitalah yang sangat membutuhkan rahmat-Nya. Pada akhirnya, yang akan kita bawa bukanlah seberapa sering kita terlihat baik di mata manusia, melainkan seberapa tulus kita benar-benar berubah di hadapan Allah.
Semoga kita tidak hanya menjadi hamba yang rajin beribadah, tetapi juga hamba yang mampu menjaga diri dari maksiat, dalam sepi maupun ramai.






